WUJUD MENCINTAI ADALAH MEMAAFKAN
“Bisakah
kau tetap disini?”
“Tidak, aku harus pergi.”
Peristiwa itu tak pernah bisa pergi
dari fikiran Vina. Tidak bisa dan tak pernah bisa. Ucapan Dafa tetap
menari-nari dikepalanya. Bagaimana bisa, Vina dengan ikhlasnya menerima
kepergian Dafa. Dafa pergi ikut kedua orangtuanya ketanah Padang meninggalkan
Vina ditanah kelahirannya Jogja.
Kini, Vina hanya bisa membayangkan ada
sosok Dafa didekatnya lagi seperti dulu. Dafa yang selalu melukiskan senyum di
bibirnya. Dafa yang tidak pernah kehabisan cara untuk membahagiakannya.
“Aku merindukanmu.” ucap vina melalui
telepon
“Vina, bukan hanya kamu yang menyimpan
rindu. Tetapi aku juga begitu, aku sangat merindukanmu. Percayalah sayang, aku
akan pulang. Aku akan kembali ketanah kelahiranku.”
“Daf, aku takut. Aku hanya takut kita
tidak akan berlanjut karna jarak. Aku takut rasa bosan melanda hubungan
kita.” tangis Vina pecah saat itu.
“Vin, ada saatnya cinta membutuhkan
ujian untuk lebih memperkuat cinta itu sendiri. Suatu hari nanti, kita tidak
akan lagi dipermainkan oleh jarak. Tidak akan lagi dipisahkan oleh luasnya
lautan” Dafa terus saja meyakinkan Vina.
“Baiklah aku akan lebih memperkuat
rasa sabar dan percayaku. Aku mencintaimu.”
“Terimakasih vin. Aku mencintaimu
lebih.”
Tutt..tutt…tutt…
Vina
mulai terbiasa dengan keadaan dimana hubungannya bersama Dafa kini terhalang
jarak. Hubungan yang menurut banyak orang tak akan berhasil. Hubungan yang
harus mempunyai banyak kekuatan dan kepercayaan yang harus selalu digenggam.
Rindu sebagai makanan sehari-hari. Berbagai macam alat komunikasi sebagai
pengobat rindu.
Vina sangat membenci kenyataan itu. Kenyataan bahwa ia dan
kekasihnya kini dipisahkan oleh yang lebih dari 1000KM. Tetapi, ia berusaha
bertahan. Ia sangat menyadari bahwa jarak itu nyata dan tak mudah baginya untuk
menghapus jarak tersebut. Kini taka da yang bisa dilakukannya selain meyakinkan
dirinya sendiri dan memberikan seluruh kepercayaannya kepada kekasihnya, Dafa.
“Dafa..
bagaimana sekolah barumu nak?” Tanya mama Dafa dengan lembut.
“Yaaa.. kaya gitu lah mah. Belum bisa
menggambarkan.”
“Sudah punya teman kan?”
“Sudahhhh maahhh” jawab Dafa singkat
seraya meninggalkan mamanya dan berjalan menuju kamarnya.
Dafa merebahkan badannya diatas tempat
tidur. Memikirkan sosok perempuan yang begitu dirindukannya. Perempuan cantik
dengan lesung pipi yang memberikan keindahan ketika tersenyum. Senyum yang
sampai saat ini terus terbayang-bayang di imajinasi Dafa. Rindu memang sangat
membunuh perasaan.
Kringggg.. Bel tanda masuk berbunyi.
Dafa duduk ditempat paling belakang bersebelahan dengan Dimas.
“kenapa lo? Diem mulu” Dimas mengagetkan Dafa
yang terus melamun. Entah karena apa.
“ehh.. ya! Gapapa bro Cuma laper aja tadi
belum sarapan”
“ooohhh
lapar. Yaudah nanti kekantin sama gue. Sambil nyari cewek. Hahaha”
“ah
dasar lu”
Bersama
Dimas, Dafa berjalan menuju kantin untuk mengisi perut yang terus berbunyi.
Disepanjang jalan takada satupun perempuan yang tidak memperhatikan sosok Dafa.
Bagaimana tidak? Dafa sosok lelaki yang gagah dan parasnya pun sudah bisa
dibilang hampir sempurna. Dan dengan keciri khasannya yang selalu rapi dan
wangi.
“Alena..”
teriak Dimas memanggil perempuan cantik bertubuh mungil.
Perempuan
itupun berjalan menghampiri Dimas yang sedang makan bersama Dafa “iya kenapa
dim?” jawab Alena dengan suara yang lembut.
“Kenalin,
ini anak baru satu kelas sama aku. Ganteng bangett kan? Hahaha” ujar Dimas
dengan seenaknya.
“Dasar
lo apaan sih. Sialan” Dafa menjawab dengan raut wajah kesal.
“Hai
aku Alena, teman Dimas anak kelas 11Bahasa.” sapa Alena kepada Dafa sambil
mengulurkan tangannya.
“Ohh
iya aku Dafa anak baru disini pindahan dari Yogya dan sekarang satu kelas
dengan Dimas” jawab Dafa sambil mengulurkan tangannya sebagai balasan uluran
tangan Alena.
“Aku
pergi dulu ya Dim, Daf.” Ujar Alena seraya meninggalkan Dafa dan Dimas yang
sedang melahap makanannya.
Dimas
menceritakan segala tentang Alena kepada Dafa. Alena adalah teman Dimas sejak
mereka duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Sosok cantik itu begitu famous disekolah. Dengan kebaikan
hatinya dan tidak pernah merasa dirinyalah yang mempunyai segalanya seperti
dalam kenyataan.
Semakin
hari Alena dan Dafa semakin dekat. Dafa yang sebelumnya tidak pernah lupa
memberikan kabar kepada kekasihnya, kekasih yang begitu jauh darinya. Kini,
semua sudah mulai berubah. Apakah karna Alena? Mungkin saja. Karna Alena
memberikan kenyamanan kepada Dafa. Perhatiannya tak habis diberikan kepada
Dafa. Apakah cinta akan hadir ditengah-tengah pertemanan mereka?
Selalu
saja. Kedekatan dalam bentuk apapun selalu memberikan rasa. Walau hanya sebatas
pertemananpun. Tetapi, kebiasaan bersama-sama itu yang membuat rasa itu hadir.
Benar saja. Alena diam-diam jatuh hati kepada Dafa. Alena ingin sekali
mengetahui bagaimana status Dafa sekarang. Tapi satu carapun tak bisa
difikirkannya. Sudahlah aku tak peduli
bagaimana kamu. Alena bukan tipe perempuan yang secara terang-terangan
berani menyatakan cinta. Namun, Alena tunjukkan lewat perhatian dan caranya
tersendiri membangun percakapan. Alena percaya lambat laun Dafa akan mengetahui
rasa dihatinya yang sudah berteriak untuk mendapatkan sambutan. Cinta memang
begitu terburu-buru mengetuk pintu hati Alena.
Kedekatan
antara Dafa dan Alena pun menemukan jawaban setelah tanda Tanya terus
menggantung. Terjalinlah hubungan yang lebih berarti dihati dibandingkan dengan
sebelumnya yang hanya sekedar teman. Dafa sangat menyadari bahwa keputusannya
untuk bersama-sama Alena adalah sebuah penghianatan dan akan memunculkan
masalah nantinya. Tapi, Dafa takbisa membohongi dirinya. Dirinya yang
membutuhkan perhatian lebih. Bukan perhatian yang diberikan hanya lewat alat komunikasi.
Tapi perhatian yang nyata adanya. Dafa membutuhkan seseorang yang bisa
digenggam jemari tangannya. Bukan seseorang yang hanya bisa dibayangkan.
Membutuhkan seseorang yang senyuman dan senyum itu nyata terlihat dibola
matanya. Bukan seseorang yang hanya dijumpainya didunia mimpi.
Dafa mencintai Vina lebih dari mencintai Alena. Tetapi, Dafa
tak bisa menghapus bayang-bayang Alena yang perhatiannya itu sungguh
menenangkan hati dan memberikan kenyamanan yang luar biasa. Kini tak ada yang
bisa dilakukan Dafa kecuali menunggu waktu itu datang. Saat dimana semua sudah
terbongkar. Tak adalagi sandiwara dan kebohongan sedikitpun yang tersimpan.
Jarum
jam tak pernah lelah berputar. Vina dengan kesetiaannya masih saja bertahan
dengan sebuah keyakinan. Keyakinan jika bahagia itu tak akan pergi. Bahagia itu
ada. Rindu pasti akan menemukan titik berhentinya.
Sudah
hampir 1 tahun jarak itu hadir. Kepercayaan tak pernah terlepas dari
genggamannya. Karna memang yang harus digenggam itu, bukan tangan Dafa yang
memberikan kehangatan dan kenyamanan saat jemarinya dan jemari Dafa bersatu.
Sudahlah,
ini hanya jarak yang menyebalkan dengan berbagai macam ujian yang bertubi-tubi
datangnya dan takpernah mengatakan permisi. Ujian yang menyebabkan tangis
mengalir deras dan sama sekali tak pernah jelas kapan akan mengatakan selamat
tinggal lalu kebahagiaan menyapa.
Ponsel Vina menyala menyinari gelap
kamarnya.
Selamat malam sayang
Pesan masuk dari Dafa ternyata. Pesan
yang sangat ditunggu-tunggu olehnya setelah seharian taka da satupun kabar
diterima Vina. Semua rasa khawatir seketika hilang. Vina bergegas menyentuh
tombol-tombol ponselnya menuliskan nomer telepon Dafa yang sudah dihafalnya
diluar kepala.
“Daf, kamu berubah.” Vina berkata
lirih.
“Berubah gimana sayang? Aku masih
seperti dulu”
“Hari-hari ini kabarmu sangat sulit
kudapat. Sms-sms ku tidak pernah ada jawaban. Kamu tidak tau atau memang tak
mau tau?! Jam berapa sekarang Daf? Jam 10 malam Daf! Ini sudah waktunya
istirahat tetapi kamu, kamu baru memberikan aku kabar. Kamu harusnya tau
seberapa khawatirku padamu” Vina mengatakan yang seharusnya ia katakan. Ia
takmau memendam sendiri kecurigaannya itu.
Vina membuat Dafa kelu dengan semua
pertanyaan-pertanyaan itu. Harus dijawab apa? Apa harus jujur? Tidak-tidak.
“Maaf sayang. Bukan maksud membuatmu
khawatir. Tapi aku benar-benar sibuk disini. Sekolah baruku terlalu banyak
memberikan tugas.” Dafa berhasil mencari-cari alasan berharap Vina
mempercayainya dan semua akan tetap baik-baik saja.
“Mengapa kamu begitu mudah
mengabaikanku? Sementara aku sangat sulit untuk tak peduli padamu Daf” pelan..
sangat pelan Vina mengatakannya, berharap kekasihnya itu tak mendengar isakan
tangisnya.
“Maafkan aku Vin. Percayalah semua
akan tetap baik-baik saja. Aku tak akan mendustai ini semua Vin.”
Klik! Vina
mematikan telepon dilanjutkan mematikan ponselnya. Berharap Dafa tak
menghubunginya dulu. Ia hanya ingin sendiri. Sendiri merindukan sosok Dafa
hanya bersama airmata.
Taka ada yang menemani Vina saat ini.
Kecuali rindu yang terus saja merasuk kesela-sela hatinya. Rindu yang hanya
bisa ia lukiskan lewat tulisan. Tulisan dilembaran-lembaran kertas yang tertata
rapi.
Dear: Dafa sosok yang
kucintai dan kukagumi setengah mati
Tergambar wajahmu
Terlukis senyummu
Demi tuhan, aku
merindukanmu
Aku masih terus
menyelipkan namamu dalam doaku
Setiap pagi setiap hari
Aku benci
sendiri disini sayang
Berawal
dari suatu sore. Vina merasa kesepian. Ingin menghubungi Dafa tapi taku
mengganggu kesibukannya. Tapi aku kan
kekasihnya. Tak kuat menahan rindu, akhirnya
Vina mencari nomor telepon Dafa yang menghubunginya.
“Haloo. Selamat siang ini siapa ya?
Mencari Dafa? Dia sedang latihan” terdengar jawaban dari seberang sana.
Tapi
kok suaranya perempuan? Vina terus saja bertanya-tanya dihati. Siapa dia? Dia
siapa?
“Latihan
apa? Ini siapanya Dafa”
“Bola
basket. Ini saya kekasihnya. Ada perlu apa?”
Darrr! Darr! Darrr! Serasa ada peluru
masuk ketubuh Vina. Apa maksud ini semua? Dafa yang dipercayainya,
diperjuangkannya ternyata seorang laki-laki sialan.
Sedetik.. dua
detik.. tiga detik.. beberapa detik.. Vina hanya bisa terdiam. Ia serasa diikat
oleh puluhan rantai besi, takbisa bergerak dan sulit bernafas. Semua serasa
mimpi. Serasa hanya imajinasinya. Tak mungkin! Ini tak mungkin! Laki-laki yang
membuatnya susah tidur itu ternyata seorang PENGHIANAT.
Suara ponsel Vina berbunyi. Bunyi
pertanda ada panggilan yang masuk. Dafa. Nama itu muncul dilayar ponsel Vina.
Klik! Vina me-reject panggilan Dafa.
Tak ingin berbicara dengan laki-laki penghianat itu. Suara itu berbunyi lagi,
klik! Vina me-reject lagi. Berbunyi
lagi tapi Vina sama sekali tak menghiraukannya. Tanpa hentinya suara itu tetap
berbunyi dan akhirnya,
“Halo Vin.. Vin aku bisa jelasin semua
Vin. Vin maafin aku Vin. Vin?”
“Ada perlu apalagi Daf? Bukankah
semuanya sudah jelas adanya? Seharusnya aku tau dari awal. Semua tak akan
berakhir indah.”
“Semua akan berakhir indah Vin.
Maafkan aku Vin. Jangan mengakhiri semuanya Vin. Sungguh aku sangat mencintaimu”
Dafa terus saja memohon-mohon kepada Vina berharap Vina bisa memaafkan.
“Cinta? Katamu cinta Daf? Tak akan ada
penghianatan jika memang dihatimu itu tersimpan cinta untukku”
“Aku hanya membutuhkan perhatian
darinya Vin”
“Jadi menurutmu aku kurang perhatian?
Bukankah selama ini aku takpernah berhenti memberikanmu perhatian?”
“Maksudku perhatian dari seseorang
didekatku Vin, bukan yang hanya melalui alat komunikasi”
“Kalo memang seperti itu, kenapa kamu
masih saja mengikatku?”
“Aku mencintaimu Vin, aku tak ingin
melepaskanmu. Aku janji deh, aku akan mencari waktu yang tepat untuk memutuskan
dia”
“Baik aku akan memberi kesempatan
buatkamu. Aku juga mencintaimu”
Ucapan Dafa
luluhkan hati Vina.
Sekali duakali Vina masih mentoleransi
dan menahan perasaan setiap kali Dafa meminta izin untuk pergi bersama Alena.
Namun, ketika hal it uterus saja terjadi hingga berkali-kali, vina takbisa
menahan lagi. Yang ia rasakan saat ini bukan lagi cemburu ataupun rasa sakit.
Tapi, puncak dari rasa sakit. Apalagi ketika Dafa menjawab dengan sejuta alasan
setiap kali Vina bertanya kapan ia akan memutuskan hubunganya dengan Alena.
Satu kali tak ada jawaban. Dua kali,
tetap taka da. Tiga kali…
“Halo Vin, ada apa? Aku sudah tidur lo
sayang”
“Kita harus berakhir! Sore tadi
seseorang telah menyatakan cinta padaku” Vina berbohong kepada Dafa. Tak ada
yang bisa dilakukannya saat ini kecuali itu.
“Siapa?! Kamu bilang iya?!” amarah
Dafa bisa dirasakan oleh Vina
“Iya! Aku bilang iya! Aku bilang sama
dia kalau aku mau jadi pacarnya”
“Kenapa? Kamu kan udah…”
“Apa? Kamu mau bilang apa? Kamu mau
bilang kalau aku udah punya kamu, iya? Kamu mau bilang kalau aku ini pacar
kamu? Bukan!”
“Aku kan sudah bilang, aku lagi cari
waktu buat mutusin Alena”
“Tapi enggak pernah bisa kan? Nggak
pernah akan ada waktu yang tepat buat itu karna pada dasarnya kamu emang nggak
berniat untuk mutusin dia. Iya kan?”
Saat Dafa tidak menjawab, Vina tau
bahwa Alena dalam hidup Dafa lebih berarti daripada dirinya. Kalau memang sudah
begitu, untuk apalagi mempertahankan Dafa?
“Aku udah cukup memberi kesempatan
buat kamu melakukan hal yang benar Daf. Aku udah cukup bersabar buat kita
berdua. Tapi kalau memang udah jadi keputusanmu buat sama-sama orang lain, aku
bisa apa?” ujar Vina dengan berderai airmata
“Vin…”
“Aku bukan perempuan bodoh yang
merelakan semua demi cinta. Kalau memang kamu memilih bersama dia, silahkan!
Aku nggak punya hak apa-apa buat melarang kamu. Sama halnya kamu nggak punya
hak buat melarang aku bersama orang lain.”
“Jadi..”
“Ya! Kita putus. Bye!”
Klik! Vina
mematikan telepon. Vina berusaha menguatkan diri menata puing-puing hatinya
yang baru saja hancur berantakan.
Seketika wajah Dafa kembali muncul di otak
Vina. Hatinya memanggil-manggil nama itu. Apakah mustahil jika ia berharap
suara hatinya terdengar hingga ketelinga dan hati Dafa? Laki-laki yang hingga
saat ini tetap mengisi ruang hatinya. Bagaimana kamar Dafa sekarang? Bahagia?
Atau sebaliknya? Masih jelas teringat kejadian 2tahun lalu dimana Dafa
meninggalkannya ketika semua sudah tertata rapi. Sekarang, apakah Dafa
benar-banar sudah menjadi bagian darimasa lalunya? Sedangkan hatinya masih
milik Dafa.
Ponsel Vina membunyikan suaranya
pertanda SMS masuk
Lihatlah keluar dan
lukiskan senyum yang selalu kurindukan
Siapa ini? Nomor tak dikenal. Sudahlah
abaikan. Tapi.. Vina pernah mendengar seseorang mengucapkan itu dahulu. Tapi
siapa? Dafa!
Tak ada yang dilakukannya kecuali
berlari menuju pintu dan membukanya. Deg! Sekujur tubuhnya seakan-akan membeku
saat melihat sosok yang didepannya sekarang.
“Vin maafkan aku” sosok itu berkata
seraya menjulurkan sebuah bunga untuk Vina. Siapa lagi dia kalau bukan Dafa?
Perkataan Dafa membuat Vina kelu.
Ingin menjawab tapi bingung menjawab apa. Vina merasakan masa lalu menyerangnya
saat ini.
“Vin kok diem? Vinn?”
“Kamuu?”
“Iya Vin ini aku Dafa Vin.”
Dar! Vina
membanting pintu meninggalkan Dafa. Baginya tak ada guna berbicara dengan
seseorang yang telah mencabik-cabik perasaannya. Tapi, bukankah dia juga
merindukan Dafa?
Vina mengetuk-ngetukkan jemarinya
diatas meja dan sesekali meminum jus apel yang telah dipesannya. Terdengar
lantunan lagu Don’t you remember―Adele mengisi
seluruh ruangan café yang memberikan
kenyamanan untuk Vina.
Sudah 15 menit Vina menunggu Dafa.
Benarkah Vina menuggu Dafa? Buat apa? Bukankah sebelumnya hati Vina benar-benar
tak ingin memaafkan Dafa?
Sebelumnya, Dafa telah menceritakan
semuanya kepada Vina. Memang butuh perjuangan untuk menjelaskan kepada Vina
yang sama sekali tak ingin bertemu Dafa. Dan akhirnya.. berjuang untuk hal baik
pasti akan mendapatkan hasilnya.
Tentang Alena, Sejak Alena tau siapa Vina, dia
mengganti SIM-Card Dafa, karna tak
ingin Dafa menghubungi Vina lagi. Tapi ternyata hubungan Alena dan Dafa tak
berlangsung lama. Hanya 1tahun. Alena tak seperti Vina dengan rasa sabar tetap
mencintai, dengan ikhlas tetap menjaga kesetiaannya.
Sejak
saat itu Dafa tak henti-hentinya mencari semua tentang Vina. Mencari melalui
media social, menghubungi teman-teman lama yang ada di Jogya, tapi apa
hasilnya? Tak ada! Tak didapatkan nomer Vina. Harus bagaimana sekarang? Dafa
dengan penuh penyesalan akhirnya bisa tersenyum. Proyek kerja papanya sudah
selesai, dan akan kembali lagi ke Yogya. Bagaimana bisa Dafa tak bahagia? Dia
akan menemui sosok perempuan yang sangat dirindukannya itu.
“Hei!
Maaf ya menunggu lama.” sapa sosok yang selalu wangi itu kepada Vina.
“Ndakpapa.
Ini hanya menunggu hitungan menit bukan hitungan tahun lagi.”
“Aku
merindukan kita yang seperti ini. Terima kasih Vin, kamu bagaikan malaikat
dimataku. Kesabaranmu membuka kesadaranku”
“Wujud
mencintai adalah memaafkan Daf.”
“Benar-benar
masih mencintaiku kah kamu Vin?”
“Lihatlah
kenyataan Daf. Saat aku berlari sejauh apapun, bayangmu tetap mengikutiku
berlari. Masih ingin pergi lagi?”
“Tidak
sayang.”
Rindu
telah lepas dari dua manusia yang menyimpan cinta itu. Senyum keduanya
mengembang. Kebahagiaan jelas terlihat diraut wajah mereka. Adakah yang lebih
indah dari menemukan bayang diri ketika menatap bolamata seseorang yang telah
mengisi ruang-ruang dihati?