k

Selasa, 26 Agustus 2014

Cerpen



 WUJUD MENCINTAI ADALAH MEMAAFKAN
“Bisakah kau tetap disini?”
          “Tidak, aku harus pergi.”
          Peristiwa itu tak pernah bisa pergi dari fikiran Vina. Tidak bisa dan tak pernah bisa. Ucapan Dafa tetap menari-nari dikepalanya. Bagaimana bisa, Vina dengan ikhlasnya menerima kepergian Dafa. Dafa pergi ikut kedua orangtuanya ketanah Padang meninggalkan Vina ditanah kelahirannya Jogja.
          Kini, Vina hanya bisa membayangkan ada sosok Dafa didekatnya lagi seperti dulu. Dafa yang selalu melukiskan senyum di bibirnya. Dafa yang tidak pernah kehabisan cara untuk membahagiakannya.
          “Aku merindukanmu.” ucap vina melalui telepon
          “Vina, bukan hanya kamu yang menyimpan rindu. Tetapi aku juga begitu, aku sangat merindukanmu. Percayalah sayang, aku akan pulang. Aku akan kembali ketanah kelahiranku.”
          “Daf, aku takut. Aku hanya takut kita tidak akan berlanjut karna jarak. Aku takut rasa bosan melanda hubungan kita.”  tangis Vina pecah saat itu.
          “Vin, ada saatnya cinta membutuhkan ujian untuk lebih memperkuat cinta itu sendiri. Suatu hari nanti, kita tidak akan lagi dipermainkan oleh jarak. Tidak akan lagi dipisahkan oleh luasnya lautan” Dafa terus saja meyakinkan Vina.
          “Baiklah aku akan lebih memperkuat rasa sabar dan percayaku. Aku mencintaimu.”
          “Terimakasih vin. Aku mencintaimu lebih.”
Tutt..tutt…tutt…
Vina mulai terbiasa dengan keadaan dimana hubungannya bersama Dafa kini terhalang jarak. Hubungan yang menurut banyak orang tak akan berhasil. Hubungan yang harus mempunyai banyak kekuatan dan kepercayaan yang harus selalu digenggam. Rindu sebagai makanan sehari-hari. Berbagai macam alat komunikasi sebagai pengobat rindu.
Vina sangat membenci kenyataan itu. Kenyataan bahwa ia dan kekasihnya kini dipisahkan oleh yang lebih dari 1000KM. Tetapi, ia berusaha bertahan. Ia sangat menyadari bahwa jarak itu nyata dan tak mudah baginya untuk menghapus jarak tersebut. Kini taka da yang bisa dilakukannya selain meyakinkan dirinya sendiri dan memberikan seluruh kepercayaannya kepada kekasihnya, Dafa.              
         
“Dafa.. bagaimana sekolah barumu nak?” Tanya mama Dafa dengan lembut.
          “Yaaa.. kaya gitu lah mah. Belum bisa menggambarkan.”
          “Sudah punya teman kan?”
          “Sudahhhh maahhh” jawab Dafa singkat seraya meninggalkan mamanya dan berjalan menuju kamarnya.
          Dafa merebahkan badannya diatas tempat tidur. Memikirkan sosok perempuan yang begitu dirindukannya. Perempuan cantik dengan lesung pipi yang memberikan keindahan ketika tersenyum. Senyum yang sampai saat ini terus terbayang-bayang di imajinasi Dafa. Rindu memang sangat membunuh perasaan.
          Kringggg.. Bel tanda masuk berbunyi. Dafa duduk ditempat paling belakang bersebelahan dengan Dimas.
 “kenapa lo? Diem mulu” Dimas mengagetkan Dafa yang terus melamun. Entah karena apa.
 “ehh.. ya! Gapapa bro Cuma laper aja tadi belum sarapan”
“ooohhh lapar. Yaudah nanti kekantin sama gue. Sambil nyari cewek. Hahaha”
“ah dasar lu”
Bersama Dimas, Dafa berjalan menuju kantin untuk mengisi perut yang terus berbunyi. Disepanjang jalan takada satupun perempuan yang tidak memperhatikan sosok Dafa. Bagaimana tidak? Dafa sosok lelaki yang gagah dan parasnya pun sudah bisa dibilang hampir sempurna. Dan dengan keciri khasannya yang selalu rapi dan wangi.
“Alena..” teriak Dimas memanggil perempuan cantik bertubuh mungil.
Perempuan itupun berjalan menghampiri Dimas yang sedang makan bersama Dafa “iya kenapa dim?” jawab Alena dengan suara yang lembut.
“Kenalin, ini anak baru satu kelas sama aku. Ganteng bangett kan? Hahaha” ujar Dimas dengan seenaknya.
“Dasar lo apaan sih. Sialan” Dafa menjawab dengan raut wajah kesal.
“Hai aku Alena, teman Dimas anak kelas 11Bahasa.” sapa Alena kepada Dafa sambil mengulurkan tangannya.
“Ohh iya aku Dafa anak baru disini pindahan dari Yogya dan sekarang satu kelas dengan Dimas” jawab Dafa sambil mengulurkan tangannya sebagai balasan uluran tangan Alena.
“Aku pergi dulu ya Dim, Daf.” Ujar Alena seraya meninggalkan Dafa dan Dimas yang sedang melahap makanannya.
Dimas menceritakan segala tentang Alena kepada Dafa. Alena adalah teman Dimas sejak mereka duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Sosok cantik itu begitu famous disekolah. Dengan kebaikan hatinya dan tidak pernah merasa dirinyalah yang mempunyai segalanya seperti dalam kenyataan.
Semakin hari Alena dan Dafa semakin dekat. Dafa yang sebelumnya tidak pernah lupa memberikan kabar kepada kekasihnya, kekasih yang begitu jauh darinya. Kini, semua sudah mulai berubah. Apakah karna Alena? Mungkin saja. Karna Alena memberikan kenyamanan kepada Dafa. Perhatiannya tak habis diberikan kepada Dafa. Apakah cinta akan hadir ditengah-tengah pertemanan mereka?
Selalu saja. Kedekatan dalam bentuk apapun selalu memberikan rasa. Walau hanya sebatas pertemananpun. Tetapi, kebiasaan bersama-sama itu yang membuat rasa itu hadir. Benar saja. Alena diam-diam jatuh hati kepada Dafa. Alena ingin sekali mengetahui bagaimana status Dafa sekarang. Tapi satu carapun tak bisa difikirkannya. Sudahlah aku tak peduli bagaimana kamu. Alena bukan tipe perempuan yang secara terang-terangan berani menyatakan cinta. Namun, Alena tunjukkan lewat perhatian dan caranya tersendiri membangun percakapan. Alena percaya lambat laun Dafa akan mengetahui rasa dihatinya yang sudah berteriak untuk mendapatkan sambutan. Cinta memang begitu terburu-buru mengetuk pintu hati Alena.
Kedekatan antara Dafa dan Alena pun menemukan jawaban setelah tanda Tanya terus menggantung. Terjalinlah hubungan yang lebih berarti dihati dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya sekedar teman. Dafa sangat menyadari bahwa keputusannya untuk bersama-sama Alena adalah sebuah penghianatan dan akan memunculkan masalah nantinya. Tapi, Dafa takbisa membohongi dirinya. Dirinya yang membutuhkan perhatian lebih. Bukan perhatian yang diberikan hanya lewat alat komunikasi. Tapi perhatian yang nyata adanya. Dafa membutuhkan seseorang yang bisa digenggam jemari tangannya. Bukan seseorang yang hanya bisa dibayangkan. Membutuhkan seseorang yang senyuman dan senyum itu nyata terlihat dibola matanya. Bukan seseorang yang hanya dijumpainya didunia mimpi.
Dafa mencintai Vina lebih dari mencintai Alena. Tetapi, Dafa tak bisa menghapus bayang-bayang Alena yang perhatiannya itu sungguh menenangkan hati dan memberikan kenyamanan yang luar biasa. Kini tak ada yang bisa dilakukan Dafa kecuali menunggu waktu itu datang. Saat dimana semua sudah terbongkar. Tak adalagi sandiwara dan kebohongan sedikitpun yang tersimpan.

Jarum jam tak pernah lelah berputar. Vina dengan kesetiaannya masih saja bertahan dengan sebuah keyakinan. Keyakinan jika bahagia itu tak akan pergi. Bahagia itu ada. Rindu pasti akan menemukan titik berhentinya.
Sudah hampir 1 tahun jarak itu hadir. Kepercayaan tak pernah terlepas dari genggamannya. Karna memang yang harus digenggam itu, bukan tangan Dafa yang memberikan kehangatan dan kenyamanan saat jemarinya dan jemari Dafa bersatu.
Sudahlah, ini hanya jarak yang menyebalkan dengan berbagai macam ujian yang bertubi-tubi datangnya dan takpernah mengatakan permisi. Ujian yang menyebabkan tangis mengalir deras dan sama sekali tak pernah jelas kapan akan mengatakan selamat tinggal lalu kebahagiaan menyapa.
          Ponsel Vina menyala menyinari gelap kamarnya.
Selamat malam sayang
          Pesan masuk dari Dafa ternyata. Pesan yang sangat ditunggu-tunggu olehnya setelah seharian taka da satupun kabar diterima Vina. Semua rasa khawatir seketika hilang. Vina bergegas menyentuh tombol-tombol ponselnya menuliskan nomer telepon Dafa yang sudah dihafalnya diluar kepala.
          “Daf, kamu berubah.” Vina berkata lirih.
          “Berubah gimana sayang? Aku masih seperti dulu”
          “Hari-hari ini kabarmu sangat sulit kudapat. Sms-sms ku tidak pernah ada jawaban. Kamu tidak tau atau memang tak mau tau?! Jam berapa sekarang Daf? Jam 10 malam Daf! Ini sudah waktunya istirahat tetapi kamu, kamu baru memberikan aku kabar. Kamu harusnya tau seberapa khawatirku padamu” Vina mengatakan yang seharusnya ia katakan. Ia takmau memendam sendiri kecurigaannya itu.
          Vina membuat Dafa kelu dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Harus dijawab apa? Apa harus jujur? Tidak-tidak.
          “Maaf sayang. Bukan maksud membuatmu khawatir. Tapi aku benar-benar sibuk disini. Sekolah baruku terlalu banyak memberikan tugas.” Dafa berhasil mencari-cari alasan berharap Vina mempercayainya dan semua akan tetap baik-baik saja.
          “Mengapa kamu begitu mudah mengabaikanku? Sementara aku sangat sulit untuk tak peduli padamu Daf” pelan.. sangat pelan Vina mengatakannya, berharap kekasihnya itu tak mendengar isakan tangisnya.
          “Maafkan aku Vin. Percayalah semua akan tetap baik-baik saja. Aku tak akan mendustai ini semua Vin.”
          Klik! Vina mematikan telepon dilanjutkan mematikan ponselnya. Berharap Dafa tak menghubunginya dulu. Ia hanya ingin sendiri. Sendiri merindukan sosok Dafa hanya bersama airmata.

          Taka ada yang menemani Vina saat ini. Kecuali rindu yang terus saja merasuk kesela-sela hatinya. Rindu yang hanya bisa ia lukiskan lewat tulisan. Tulisan dilembaran-lembaran kertas yang tertata rapi.
Dear: Dafa sosok yang kucintai dan kukagumi setengah mati

Tergambar wajahmu
Terlukis senyummu
Demi tuhan, aku merindukanmu
Aku masih terus menyelipkan namamu dalam doaku
Setiap pagi setiap hari
Aku benci sendiri disini sayang

Berawal dari suatu sore. Vina merasa kesepian. Ingin menghubungi Dafa tapi taku mengganggu kesibukannya. Tapi aku kan kekasihnya. Tak kuat menahan rindu, akhirnya Vina mencari nomor telepon Dafa yang menghubunginya.
          “Haloo. Selamat siang ini siapa ya? Mencari Dafa? Dia sedang latihan” terdengar jawaban dari seberang sana.
Tapi kok suaranya perempuan? Vina terus saja bertanya-tanya dihati. Siapa dia? Dia siapa?
“Latihan apa? Ini siapanya Dafa”
“Bola basket. Ini saya kekasihnya. Ada perlu apa?”
          Darrr! Darr! Darrr! Serasa ada peluru masuk ketubuh Vina. Apa maksud ini semua? Dafa yang dipercayainya, diperjuangkannya ternyata seorang laki-laki sialan.
          Sedetik.. dua detik.. tiga detik.. beberapa detik.. Vina hanya bisa terdiam. Ia serasa diikat oleh puluhan rantai besi, takbisa bergerak dan sulit bernafas. Semua serasa mimpi. Serasa hanya imajinasinya. Tak mungkin! Ini tak mungkin! Laki-laki yang membuatnya susah tidur itu ternyata seorang PENGHIANAT.

          Suara ponsel Vina berbunyi. Bunyi pertanda ada panggilan yang masuk. Dafa. Nama itu muncul dilayar ponsel Vina. Klik! Vina me-reject panggilan Dafa. Tak ingin berbicara dengan laki-laki penghianat itu. Suara itu berbunyi lagi, klik! Vina me-reject lagi. Berbunyi lagi tapi Vina sama sekali tak menghiraukannya. Tanpa hentinya suara itu tetap berbunyi dan akhirnya,
          “Halo Vin.. Vin aku bisa jelasin semua Vin. Vin maafin aku Vin. Vin?”
          “Ada perlu apalagi Daf? Bukankah semuanya sudah jelas adanya? Seharusnya aku tau dari awal. Semua tak akan berakhir indah.”
          “Semua akan berakhir indah Vin. Maafkan aku Vin. Jangan mengakhiri semuanya Vin. Sungguh aku sangat mencintaimu” Dafa terus saja memohon-mohon kepada Vina berharap Vina bisa memaafkan.
          “Cinta? Katamu cinta Daf? Tak akan ada penghianatan jika memang dihatimu itu tersimpan cinta untukku”
          “Aku hanya membutuhkan perhatian darinya Vin”
          “Jadi menurutmu aku kurang perhatian? Bukankah selama ini aku takpernah berhenti memberikanmu perhatian?”
          “Maksudku perhatian dari seseorang didekatku Vin, bukan yang hanya melalui alat komunikasi”
          “Kalo memang seperti itu, kenapa kamu masih saja mengikatku?”
          “Aku mencintaimu Vin, aku tak ingin melepaskanmu. Aku janji deh, aku akan mencari waktu yang tepat untuk memutuskan dia”
          “Baik aku akan memberi kesempatan buatkamu. Aku juga mencintaimu”
          Ucapan Dafa luluhkan hati Vina.
          Sekali duakali Vina masih mentoleransi dan menahan perasaan setiap kali Dafa meminta izin untuk pergi bersama Alena. Namun, ketika hal it uterus saja terjadi hingga berkali-kali, vina takbisa menahan lagi. Yang ia rasakan saat ini bukan lagi cemburu ataupun rasa sakit. Tapi, puncak dari rasa sakit. Apalagi ketika Dafa menjawab dengan sejuta alasan setiap kali Vina bertanya kapan ia akan memutuskan hubunganya dengan Alena.
          Satu kali tak ada jawaban. Dua kali, tetap taka da. Tiga kali…
          “Halo Vin, ada apa? Aku sudah tidur lo sayang”
          “Kita harus berakhir! Sore tadi seseorang telah menyatakan cinta padaku” Vina berbohong kepada Dafa. Tak ada yang bisa dilakukannya saat ini kecuali itu.
          “Siapa?! Kamu bilang iya?!” amarah Dafa bisa dirasakan oleh Vina
          “Iya! Aku bilang iya! Aku bilang sama dia kalau aku mau jadi pacarnya”
          “Kenapa? Kamu kan udah…”
          “Apa? Kamu mau bilang apa? Kamu mau bilang kalau aku udah punya kamu, iya? Kamu mau bilang kalau aku ini pacar kamu? Bukan!”
          “Aku kan sudah bilang, aku lagi cari waktu buat mutusin Alena”
          “Tapi enggak pernah bisa kan? Nggak pernah akan ada waktu yang tepat buat itu karna pada dasarnya kamu emang nggak berniat untuk mutusin dia. Iya kan?”
          Saat Dafa tidak menjawab, Vina tau bahwa Alena dalam hidup Dafa lebih berarti daripada dirinya. Kalau memang sudah begitu, untuk apalagi mempertahankan Dafa?
          “Aku udah cukup memberi kesempatan buat kamu melakukan hal yang benar Daf. Aku udah cukup bersabar buat kita berdua. Tapi kalau memang udah jadi keputusanmu buat sama-sama orang lain, aku bisa apa?” ujar Vina dengan berderai airmata
          “Vin…”
          “Aku bukan perempuan bodoh yang merelakan semua demi cinta. Kalau memang kamu memilih bersama dia, silahkan! Aku nggak punya hak apa-apa buat melarang kamu. Sama halnya kamu nggak punya hak buat melarang aku bersama orang lain.”
          “Jadi..”
          “Ya! Kita putus. Bye!”
          Klik! Vina mematikan telepon. Vina berusaha menguatkan diri menata puing-puing hatinya yang baru saja hancur berantakan.

          Seketika wajah Dafa kembali muncul di otak Vina. Hatinya memanggil-manggil nama itu. Apakah mustahil jika ia berharap suara hatinya terdengar hingga ketelinga dan hati Dafa? Laki-laki yang hingga saat ini tetap mengisi ruang hatinya. Bagaimana kamar Dafa sekarang? Bahagia? Atau sebaliknya? Masih jelas teringat kejadian 2tahun lalu dimana Dafa meninggalkannya ketika semua sudah tertata rapi. Sekarang, apakah Dafa benar-banar sudah menjadi bagian darimasa lalunya? Sedangkan hatinya masih milik Dafa.
          Ponsel Vina membunyikan suaranya pertanda SMS masuk
Lihatlah keluar dan lukiskan senyum yang selalu kurindukan
          Siapa ini? Nomor tak dikenal. Sudahlah abaikan. Tapi.. Vina pernah mendengar seseorang mengucapkan itu dahulu. Tapi siapa? Dafa!
          Tak ada yang dilakukannya kecuali berlari menuju pintu dan membukanya. Deg! Sekujur tubuhnya seakan-akan membeku saat melihat sosok yang didepannya sekarang.
          “Vin maafkan aku” sosok itu berkata seraya menjulurkan sebuah bunga untuk Vina. Siapa lagi dia kalau bukan Dafa?
          Perkataan Dafa membuat Vina kelu. Ingin menjawab tapi bingung menjawab apa. Vina merasakan masa lalu menyerangnya saat ini.
          “Vin kok diem? Vinn?”
          “Kamuu?”
          “Iya Vin ini aku Dafa Vin.”
          Dar! Vina membanting pintu meninggalkan Dafa. Baginya tak ada guna berbicara dengan seseorang yang telah mencabik-cabik perasaannya. Tapi, bukankah dia juga merindukan Dafa?

          Vina mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas meja dan sesekali meminum jus apel yang telah dipesannya. Terdengar lantunan lagu Don’t you remember―Adele mengisi seluruh ruangan cafĂ© yang memberikan kenyamanan untuk Vina.
          Sudah 15 menit Vina menunggu Dafa. Benarkah Vina menuggu Dafa? Buat apa? Bukankah sebelumnya hati Vina benar-benar tak ingin memaafkan Dafa?
          Sebelumnya, Dafa telah menceritakan semuanya kepada Vina. Memang butuh perjuangan untuk menjelaskan kepada Vina yang sama sekali tak ingin bertemu Dafa. Dan akhirnya.. berjuang untuk hal baik pasti akan mendapatkan hasilnya.
 Tentang Alena, Sejak Alena tau siapa Vina, dia mengganti SIM-Card Dafa, karna tak ingin Dafa menghubungi Vina lagi. Tapi ternyata hubungan Alena dan Dafa tak berlangsung lama. Hanya 1tahun. Alena tak seperti Vina dengan rasa sabar tetap mencintai, dengan ikhlas tetap menjaga kesetiaannya.
Sejak saat itu Dafa tak henti-hentinya mencari semua tentang Vina. Mencari melalui media social, menghubungi teman-teman lama yang ada di Jogya, tapi apa hasilnya? Tak ada! Tak didapatkan nomer Vina. Harus bagaimana sekarang? Dafa dengan penuh penyesalan akhirnya bisa tersenyum. Proyek kerja papanya sudah selesai, dan akan kembali lagi ke Yogya. Bagaimana bisa Dafa tak bahagia? Dia akan menemui sosok perempuan yang sangat dirindukannya itu.
“Hei! Maaf ya menunggu lama.” sapa sosok yang selalu wangi itu kepada Vina.
“Ndakpapa. Ini hanya menunggu hitungan menit bukan hitungan tahun lagi.”
“Aku merindukan kita yang seperti ini. Terima kasih Vin, kamu bagaikan malaikat dimataku. Kesabaranmu membuka kesadaranku”
“Wujud mencintai adalah memaafkan Daf.”
“Benar-benar masih mencintaiku kah kamu Vin?”
“Lihatlah kenyataan Daf. Saat aku berlari sejauh apapun, bayangmu tetap mengikutiku berlari. Masih ingin pergi lagi?”
“Tidak sayang.”
Rindu telah lepas dari dua manusia yang menyimpan cinta itu. Senyum keduanya mengembang. Kebahagiaan jelas terlihat diraut wajah mereka. Adakah yang lebih indah dari menemukan bayang diri ketika menatap bolamata seseorang yang telah mengisi ruang-ruang dihati?